Mengulik Fakta Dampak Buruk Makanan Instan Terhadap Penyakit Gagal Ginjal


ilustrasi junk food x healty food--freepik.com

JURNALIS INDONESIA- Makanan Instan kini menjadi gaya hidup masyarakat karena mudahnya penyajian dan rasa yang menggiurkan.

Hal ini didorong gaya hidup yang sibuk sehingga menyiapkan hidangan makanan diserahkan kepada pihak lain, baik lewat aplikasi online maupun makanan olahan yang cepat untuk disajikan, salah satunya mi instan.

Masyarakat tidak perlu bingung untuk memiliih makanan karena berbagai gerai makanan Cepat Saji dengan menawarkan varian masakan bisa dinikmati tanpa harus beranjak dari kantor atau rumah, tinggal memesan lewat smartphone dan tunggu hingga kurir tiba.

Makanan cepat saji (Fast Food) adalah makanan yang tersedia dalam waktu cepat dan siap disantap seperti ayam goreng, pizza, burger, kentang goreng, gorengan dan lain sebagainya.

(BACA JUGA:Penjelasan Ilmiah Kasus Tubuh Terbakar secara Spontan setelah Lebih dari 50 Tahun Menjadi Misteri)

Berkat kecanggihan teknologi pada zaman  modern saat ini, kehadiran makanan cepat saji semakin memanjakan manusia dalam memenuhi kebutuhan primer sehari-hari. 

Pola konsumsi masyarakat Indonesia  dapat terganti akibat makanan cepat saji.  Semakin banyak restoran cepat saji dapat mengubah gaya hidup masyarakat.  

Masyarakat menginginkan semua dilakukan secara instan, praktis, serta  cepat dalam mengonsumsimakanan tanpa memikirkan kandungan makanan  yang mereka konsumsi.

menurut survey yang dilakukan oleh Nielsen di tahun 2008 diketahui terdapat 69% masyarakat kota Indonesia yang  gemar mengonsumsi makanan cepat saji, dengan 33% mengonsumsinya sebagai makan siang, 25% untuk makan malam, 9% dikonsumsi untuk makanan ringan dan 2% menyantapnya untuk sarapan.

(BACA JUGA:5 Khasiat Konsumsi Daun Kumis Kucing, Atasi Masalah Ginjal hingga Menurunkan Darah Tinggi)

padahal berdasarkan penelitian yang dilakukan Rizky Agung Laksono dalam jurnal ilmiah kesehatan masyarakat tahun 2022 menunjukkan bahwa konsumsi  makanan cepat saji mengakibatkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan. 

Dampak-dampak yang ditimbulkan dari makanan cepat saji tersebut tidak terlepas dari bahan atau zat-zat yang terkandung dalam makanan cepat  saji. 

Menurut Bonita (2016), makanan cepat saji umumnya memiliki beberapa kandungan tinggi sebagai berikut:

(BACA JUGA:BPOM Tentukan Nasib 5 Obat Sirup yang Terbukti Mengandung Eliten dan Dietilen Glikol)

a. Tinggi kalori

Kalori yang diperoleh dari satu porsi fast food dapat memenuhi setengah kebutuhan kalori dalam sehari yang berkisar 400-600 kalori atau bahkan sampai 1500 kalori. 

Asupan kalori yang tinggi dengan frekuensi sering dapat menyebabkan terjadinya obesitas.

b. Tinggi lemak

Kalori suatu makanan fast food mengandung 40-60% lemak jenuh. Fried chicken yang umumnya digoreng dengan kulit mengandung kolesterol cukup tinggi. 

Makanan yang digoreng dalam minyak ditambah daging dan telur mengandung kolesterol yang tinggi. Lemak dan kolesterol dibutuhkan oleh tubuh, tetapi jika dikonsumsi berlebihan mengakibatkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah.

(BACA JUGA:Popularitas Jamu di Budaya Suriname, Eksis Sejak Masa Kolonial Belanda)

Konsumsi makanan  cepat  saji  terlalu   sering   juga   bisa mengakibatkan  timbulnya  berbagai  penyakit yang   berbahaya,   seperti   kolesterol   tinggi, diabetes, penyakit  jantung. 

c. Tinggi gula

Menu fast food banyak mengandung gula. Gula yang digunakan yaitu gula buatan yang tidak baik untuk kesehatan. 

Gula buatan dapat menyebabkan penyakit gula atau diabetes, kerusakan gigi, dan obesitas. Minuman bersoda, cookies, dan cake mengandung banyak gula, serta sangat sedikit vitamin dan mineralnya.

(BACA JUGA:4 Buah Ini Ternyata Bisa Turunkan Kadar Gula Darah dalam Tubuh, Wajib Dicoba!)

d. Tinggi natrium

Beberapa fast food mengandung natrium yang tinggi. Konsumsi natrium yang berlebihan menjadi faktor risiko munculnya penyakit hipertensi. 

Asupan natrium yang tinggi meningkatkan sekresi hormon natriuretik. Hormon tersebut menghambat aktivitas sel pompa natrium dan mempunyai efek penekanan pada sistem pengeluaran natrium. 

Hal ini dapat terjadi peningkatan volume cairan ekstraseluler yang mengakibatkan kenaikan tekanan darah.

e. Rendah serat

Pada umumnya fast food sangat rendah serat atau tidak mengandung sayur. Sayur yang digunakan fast food terbatas pada selada dan kol yang tidak banyak mengandung vitamin serta mineral. 

(BACA JUGA:5 Cara Mencegah Penularan Hepatitis Akut Misterius pada Anak-anak yang Telah Merenggut 99 Nyawa)

Satu porsi kentang goreng mengandung 3 gram serat, dan ayam goreng mengandung kurang dari 1 gram serat. Hal ini sangat jauh dengan kebutuhan serat yang dianjurkan per hari yaitu 25-30 gram. 

Asupan serat yang rendah mengakibatkan asam empedu lebih sedikit diekskresi feses, sehingga banyak kolesterol yang diSerap dari hasil sisa empedu.

mengonsumsi makanan cepat saji dalam jumlah yang besar sangat berdampak pada kondisi ginjal seseorang.

Penyakit ginjal merupakan salah satu penyakit sekunder akibat dari penyakit primer yang mendasarinya. Oleh sebab itulah, perlunya mengendalikan dan mengontrol penyakit primer tersebut agar tidak komplikasi menjadi Gagal Ginjal

(BACA JUGA:Salah Konsumsi Bisa Sebabkan Gagal Ginjal Akut, Ini Risiko Penggunaan Ibuprofen Di luar Anjuran Tenaga Medis)

Penyakit penyakit diabetes, tekanan darah tinggi, atau  juga penyakit jantung yang disebabkan oleh kandungan makanan cepat saji tersebut merupakan penyakit primer yang jika tidak dicegah dapat menjadi komplikasi menjadi gagal ginjal. 

bagaimana caranya? tentu saja dengan menjaga pola hidup sehat yang salah satunya dengan mengurangi konsumsi makanan cepat saji dan menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang. 

Kegemaran dan kebiasaan masyarakat mengkonsumsi makanan cepat saji juga menyebabkan semakin tingginya asupan natrium dan garam karena kadar garamnya mencapai dua kali lipat dari batas normal yang dianjurkan yaitu sebesar <2,4 gram. 

(BACA JUGA:Penjelasan Ilmiah Kasus Tubuh Terbakar secara Spontan setelah Lebih dari 50 Tahun Menjadi Misteri)

hal ini sangat bertentangan dengan batas normal kadar garam yang seharusnya diterima oleh tubuh. 

Garam tinggi berpengaruh pada orang dengan kondisi ginjal terganggu, dapat menjadi penyebab gagal ginjal. Selain itu kadar protein yang tinggi akan semakin merusak ginjal. 

secara tidak langsung, pola hidup yang serba instan salah satunya kebiasaan mengonsumsi makanan instan dapat menjafi faktor penyebab terjadinya penyakit gagal ginjal.

Ditambah lagi dengan kebiasaan masyarakat yang cenderung ketergantungan terhadap obat-obatan, misal sakit sedikit langsung minum antibiotik, hal tersebut juga menjadi salah datu pemicu terjadinya penyakit gagal ginjal. 

JI

`
Kategori : Kesehatan
Sumber : berbagai sumber