close

Tolak Conch Cement ‘Selamatkan Barru’

oleh -
Foto Ilustrasi (Pencemaran Udara-red)

JURNALIS INDONESIA.ID, BARRU – Setelah mendapat penolakan keras dari masyarakat Kabupaten Barru yang berakhir dengan ditolaknya memori peninjauan kembali (PK) di Mahkamah Agung (MA), PT. Conch Barru Cement Indonesia kembali berencana mengajukan permohonan izin Amdal untuk pembangunan pelabuhan, pabrik, dan powerhouse di Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Komisaris Utama PT Media Jurnalis Indonesia, Arianto, yang sejak dahulu menolak rencana PT. Conch untuk membangun pabrik semen di ibukota Kabupaten Barru kembali angkat bicara terkait persoalan ini.

Arianto mengatakan bahwa pembangunan industri semen di tengah-tengah kota sudah tidak bisa lagi dibantah mengenai dampak negatifnya yang sangat besar terhadap penduduk di sekitarnya. Dampak negatif industri semen sangat luar biasa dibanding dampak positif kalau memang ada, baik dampak negatif terhadap penduduk, maupun terhadap lingkungan sekitar.

“Rencana perusahaan asing ini untuk membangun industri semen di kota Barru, mungkin saja ada segelintir penduduk yang mendukung, tetapi hal itu terjadi karena belum paham benar dampak negatifnya atau mungkin karena terdapat faktor lain,” ungkap Pemimpin Redaksi JURNAL, Kamis (13/2/2020) malam.

Baca juga: Tolak Keras Pembangunan Pelabuhan, Pabrik dan Power House PT Conch Cement Barru – Indonesia

Lanjut Arianto mengatakan, perlu kesadaran bersama untuk menimbang kembali cara kita menyikapi rencana perusahaan ini di Barru, jangan sampai mengorbankan kepentingan ratusan ribu penduduk Barru demi kepentingan pribadi.

“Janganlah terbuai dengan iming-iming bisa mempekerjakan penduduk lokal atau iming-iming materi tetapi menyengsarakan generasi kita pada masa mendatang,” ujar Pimpinan SEKOCI Indoratu ini.

Dia menambahkan, diperlukan pertimbangan yang sangat matang dan komprehensif terhadap hal ini, apalagi bila dikaitkan dengan ketegangan yang terjadi pada akhir 2019 lalu antara hubungan Indonesia dan China di perairan Natuna, Kepulauan Riau.

“Ini sangat memerlukan pertimbangan yang sangat matang, bukan pertimbangan recehan,” jelasnya.

Sebelum kembali mengajukan permohonan izin Amdal untuk jilid kedua ini, menurut Arianto, banyak pertanyaan yang muncul terkait diloloskannya perusahaan dari negeri tirai bambu ini untuk melakukan pembelian lahan atas nama penduduk asing. Belum lagi mengenai ada tidaknya izin mendirikan bangunan, terpenuhi tidaknya izin mempekerjakan buruh asing untuk mengerjakan bangunan, dan lain-lain.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap penduduk dan lingkungan, lanjut Arianto, pada 27 Januari 2020 lalu, bersama beberapa aktivis lainnya seperti HIB, mendatangi kantor Gubernur Sulawesi Selatan, yang sebelumnya juga telah melayangkan surat keberatan kepada Gubernur Sulawesi Selatan terkait Pembangunan Pelabuhan, Pabrik, dan Powerhouse di Barru oleh PT. Conch Barru Cement Indonesia.

“Semoga keberatan tersebut mendapat respon positif dari pak gubernur untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan bersama pada masa-masa mendatang,” imbuhnya.

Baca juga: Conch Cement Ditolak di Barru

Surat yang disampaikan kepada Gubernur Sulsel tersebut dikatakan, sehubungan pengumuman Amdal yang disampaikan melalui salah satu media cetak mengenai rencana PT. Conch Barru Cement Indonesia untuk membangun pelabuhan, pabrik, dan powerhouse di ibukota Kecamatan Barru, yang selanjutnya meminta saran, masukan dan tanggapan masyarakat untuk hal tersebut, kami dari media cetak JURNAL dan media online JURNALISINDONESIA.ID, menyatakan ‘MENOLAK KERAS’ rencana pembangunan pelabuhan, pabrik, dan powerhouse di ibukota Kecamatan Barru, dengan beberapa pertimbangan.

Lanjut dijelaskan pertimbangan-pertimbangan tersebut antaralain, pembangunan pabrik semen di tengah-tengah kota ibukota Kecamatan Barru sangat tidak layak karena industri semen akan membawa dampak buruk bagi kesehatan, lingkungan hidup dan kenyamanan penduduk sekitar, yang mana penduduk sekitar rencana lokasi pabrik merupakan wilayah dengan penduduk yang sangat padat. Industri semen akan membawa dampak polusi udara, gangguan kesehatan, dan kebisingan.

Dampak buruk keberadaan industri semen di tengah-tengah perkampungan padat penduduk sudah tidak bisa dibantah dengan melihat fakta-fakta yang telah ada di berbagai daerah, meskipun dikatakan menggunakan teknologi secanggih apapun.

Selanjutnya, penduduk Barru khususnya di Kecamatan Barru tidak pernah menolak investor termasuk investor dari negeri China ini untuk membangun industri semen karena akan membawa sisi positif seperti memperluas lapangan kerja, tetapi rencana keberadaan industri semen di tengah kota ini akan membawa dampak negatif yang jauh lebih besar dibanding dengan dampak positifnya. Lalu, rencana penempatan pembangunan pabrik semen di Kota Barru, tepatnya di Jampue, Kelurahan Mangempang, tidak termasuk kawasan industri sehingga hal ini menyalahi Peraturan Daerah di Kabupaten Barru.

Lalu, pembangunan pabrik semen oleh PT. Conch Barru Cement Indonesia, di lokasi yang sama, telah dilakukan PT Conch beberapa tahun yang lalu, namun PT Conch mendapat penolakan dari seluruh elemen masyarakat yang berujung pada diajukannya gugatan oleh masyarakat ke Pengadilan Tata Usaha Negeri (PTUN) Makassar. Gugatan tersebut berakhir di Mahkamah Agung (MA) dengan tidak dikabulkannya Peninjauan Kembali (PK) pihak PT Conch.

Sehingga secara hukum, rencana pembangunan Pembangunan Pelabuhan, Pabrik, dan Powerhouse di Barru oleh PT. Conch Barru Cement Indonesia di lokasi yang sama tidak bisa diizinkan lagi oleh pemerintah.

Lebih lanjut dikatakan, rencana pembangunan Pelabuhan, Pabrik, dan Powerhouse di Barru oleh PT. Conch Barru Cement Indonesia sangat menyalahi kebijakan Pemerintah Kabupaten Barru dalam upaya meningkatkan produksi dan produktivitas hasil pertanian padi melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi dimana lokasi yang dijadikan lokasi pabrik di Jampue seluruhnya merupakan sawah produktif, sehingga hal ini akan mempengaruhi produksi pertanian padi di Barru.

Lebih lanjut dikatakan, rencana pembangunan Pelabuhan, Pabrik, dan Powerhouse di Barru oleh PT. Conch Barru Cement Indonesia telah menjadi persoalan yang tak kunjung selesai dan akan tetap menjadi persoalan dengan kembalinya perusahaan ini mengajukan izin Amdal karena penduduk Kabupaten Barru telah melakukan penolakan yang salah satunya dibuktikan melalui gugatan di PTUN Makassar. Oleh karena itu, rencana PT Conch untuk mendirikan pabrik semen di Kota Barru ini harus ditanggapi dengan bijaksana oleh Pemerintah Kabupaten Barru, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Pusat dengan menolak izin Amdal dan izin-izin lainnya yang terkait dengan pendirian pabrik semen untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan bersama di kemudian hari.

Penolakan media cetak JURNAL dan media online JURNALISINDONESIA.ID terhadap pembangunan Pelabuhan, Pabrik, dan Powerhouse di Barru oleh PT. Conch Barru Cement Indonesia, lanjutnya, telah disampaikan berulang kali melalui pemberitaan.

Redaksi juga telah melakukan survei menurut cara yang dilakukan selama ini terhadap masyarakat, kelompok masyarakat, kelompok kepentingan dan lainnya, sehingga rencana pembangunan ini tidak boleh dihubungkan dengan politik dengan mengorbankan kepentingan penduduk dalam jangka waktu yang tidak terbatas.

Surat tersebut tertanggal 24 Januari 2020 yang ditandatangani Pemimpin Redaksi JURNAL, Arianto. FSL/TIM JI.ID

(Berita ini telah tayang di media cetak JURNAL dengan judul “Conch Cement Ditolak”).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *